rss
twitter

Kabut Dalam Hening Mentari Pagi

Biarkan saja senja itu pergi
Jangan sesali takdir ini
Karena mungkin saja itulah sesuatu yang pasti
Ya ini pasti...
Merasa pasti dalam kepastian yang tak pasti...

Larut bersama Kabut
Tenggelam dalam kelam
Terbakar oleh lahar
Terkubur karena takabur
Yang terjadi kini hanyalah mimpi
Mimpi akan keindahan mimpi
Aku bermimpi dalam mimpi yang memimpikan mimpi mimpi

Berat memang menjinjing kapas ini
Ringan, begitu lembut
Hilang terbawa angin
Atau hanya terlepas dari genggaman
Menggenggam genggaman dalam genggaman

Memandang kulminasi langit
Terenyuh makin dalam
Terbuai terlalu tinggi
Benci dengan realita
Realita mencengkram...
Tercengkram oleh cengkraman yang mencengkram

Aku muak dengan semua ini
Ingin berlari tapi kakiku mati
Teriak, tenggorokan tercekat diam
Apa yang bisa kulakukan?
Terdiam?
Ya mungkin lebih baik aku terdiam
Menunggu tersekat terpenjara
Hingga kematian datang lebih pagi
Esok atau lusa
Atau mungkin hari ini

[+/-] Selengkapnya...

Kucuran Nikmat Berkat Amal Saleh

KESULITAN finansial adalah masalah klasik yang hampir pernah dialami setiap orang. Dalam kondisi ini, tidak sedikit orang yang bingung, bahkan stres. Betapa tidak, hajat hidup tinggi tapi pemasukan rendah. Bahkan seringkali minus. Siapapun pasti masygul menghadapi situasi ini. Kondisi ini juga pernah saya alami.

Sebagai guru honor di sekolah swasta di kota Depok, Jabar, gaji saya hanya Rp. 250 ribu perbulan. Uang sebesar itu otomatis bakal terkulai lemas oleh kerasnya cekikan harga barang yang melambung tinggi.

Tahu sendirilah, bagaimana kejamnya kota Depok, yang tak jauh beda dengan kota tetangganya, Jakarta.

Kendati begitu, saya tidak mau pusing, apalagi berputus asa. Meski pendapatan kecil, tapi saya yakin, Allah SWT maha kaya dan pemberi rezeki. Rezeki-Nya tidak akan pernah habis meski tiap detik dikeruk oleh milyaran manusia. Dan terpenting, rezekiku, meski banyak orang di dunia, tak akan ada yang mengambilnya. Saya yakin itu.

Karena itu, saya berniat melanjutkan kuliah S2 meski biaya belum ada. Tapi, dengan kondisi keuangan tipis, saya jadi pesimis.

“Apa bisa gaji Rp. 250 buat biaya kuliah, sedang kebutuhan yang lain numpuk?” batinku.

Rasioku belum bisa menerima. Hitungan matematis masih dominan ketimbang hitungan iman. Jujur saja, hal itu membuatku berfikir keras sekitar sebulan lamanya. Tidur pun jadi tak nyenyak. Gundah gaulana. Yang ada di pikiran hanya satu; kuliah, kuliah, dan kuliah.

Saya pun sadar. Tidak semua bisa dirasionalkan. Ada hitungan Allah SWT yang tak bisa dinalar logika. Sebab, pertolongan-Nya jarang bisa diprediksi oleh logika. Entah besok, bulan depan atau jam ini juga. Wallahu’alam. Untuk mematangkan niatku, saya pun shalat tahajud.

Sekitar sebulan lamanya, setiap di sepertiga malam, saya selalu berdoa kepada Allah sang pengijabah doa.

“Ya Allah, jika niat saya ini baik dan bisa membantu agama-Mu, maka mudahkanlah. Sebaliknya, jika tidak, maka jauhkanlah.”

Itulah doa yang saya panjatkan. Pendek, tapi dalam. Sebuah permintaan sekaligus pilihan; ya atau tidak. Doa itupun saya ulang-ulang. Tak jarang diselingi dengan deraian air mata. Meminta kepada yang Maha Menguasai Kehidupan, memang harus begini. Mengiba. Laksana pengemis kepada majikannya.

Hatiku pun mulai tenang. Putusan untuk lanjut kuliah telah bulat. Tiba-tiba, ada seorang teman yang mengajak silaturahim ke salah satu ustadz. Saya pun ikut. Kebetulan, saya mengenal ustadz yang juga pernah menjabat sebagai anggota DPD sebuah provinsi di Indonesia bagian Timur. Tak disangka, sang ustadz ternyata menyuruhku kuliah lagi. Tak hanya itu, ustadz itu juga memberiku uang Rp. 300 ribu.

“Secepat mungkin, kalau bisa langsung daftar. Jangan ditunda lagi,” ujarnya mantap.

Hatiku pun bergemuruh. Laksana deburan ombak. Bunyinya sahut menyahut dan berakhir di batu karang. Begitu juga hatiku. Kini, ucapan tahmid dan tasbih mengisi penuh relung hatiku.

Ya, Allah inikah tanda doaku Engkau kabulkan? Saya pun langsung mendaftarkan diri. Ketika itu, saya langsung mendaftar magister manajemen pendidikan Islam di sebuah universitas Islam. Jurusan itu saya impikan sejak lama.

Saya ingin jadi “ideolog” dalam bidang pendidikan. Miris rasanya lihat output pendidikan sekarang yang kering spiritual. Hanya kognitif saja yang dijejali. Dengan harapan, saya bisa lahirkan generasi Islam handal. Setidaknya mengikuti jejak Imam Al-Gahzali yang melahirkan generasi Shalahuddin Al-Ayyubi, panglima besar pembebas negeri Palestina. Ya, itulah cita-citaku. Normatif memang!

Kendati sudah registrasi, bukan berarti masalah selesai. Saya harus membayar uang gedung sebesar Rp. 5 juta rupiah. Tapi, lagi-lagi saya yakin Allah SWT akan mempermudah langkah hamba-Nya yang menuntut ilmu. Saya pun tetap optimis melangkah dengan mencari beasiswa kesana-kemari.

Alhamdulillah, akhirnya dapat beasiswa dari sebuah lembaga amil zakat sebesar Rp. 3 juta rupiah. Uang itu sangat membantu kekurangan pembayaran.

Kuliah pun berjalan lancar. Depok-Bogor cukup jauh. Karena tidak punya kendaraan, saya selalu nunut teman satu kuliah dan kebetulan punya motor. Atau, jika tidak, saya naik angkot.

Tak terasa, tiga bulan sudah saya jalani kuliah. Tak ada masalah. Paling keuangan dan itu bisa saya atasi. Namun, yang membuat tiba-tiba menjadi bingung, ada seorang bapak menawarkan putrinya. Masa ada yang mau dengan saya; anak perantauan dan tidak punya uang. Tampang juga pas-pasan. Saya kira, tawaran itu hanya canda. Ternyata tidak. Bapak yang tinggal di Sukabumi, Jabar itu terlihat sangat serius.

Dia menawarkan anaknya yang sedang kuliah di sebuah universitas di Bandung.

“Saya percaya sama adik. Karena itu, saya ingin jodohkan anak saya,” ujarnya serius.

Saya pun langsung mengiyakan meski belum melihat siapa calon istri saya. Ternyata, saya kaget bukan kepalang. Calon istri saya tidak hanya sangat cantik, tapi juga berjilbab. Sosok muslimah yang luar biasa, menurutku.

Karena tahu kondisi saya, seluruh biaya pernikahan diurus mertua. Saya hanya ikut nyumbang Rp. 1 juta rupiah. Awalnya saya memang belum sepenuhnya berani untuk menikah. Apalagi kalau bukan alasan ma’isyah. Kuliah aja belum kelar, apalagi harus membiayai keluarga. Untung saja, pihak mertua selalu men-support saya agar selalu yakin.

Menikahlah, maka engkau akan kaya, begitu dalil yang pernah saya baca. Dan ternyata benar. Dengan pernikahanku, rezeki seolah tak pernah putus. Baru beberapa bulan menikah, saya dapat beasiswa dari provinsi tempat asalku sebesar Rp. 12 juta rupiah. Tak hanya itu, istriku sangat pengertian. Dia tidak pernah meminta sesuatu aneh-aneh, hatta, sehelai kain pun. Subhanallah!

Jadi, sejak menikah hingga sekarang, saya belum pernah membelikan pakaian satu stelpun. Jika ada rezeki, dan hendak saya belikan, dia selalu menolak.

“Jangan mas, pake aja buat biaya kuliah atau membeli buku,” ujar istriku. Saya pun bahagia dibuatnya. Anugerah paling indah dalam hidupku. Betul, istriku adalah perhiasan terindah. Ya, istri yang shalehah.

Kini, dari pernikahanku telah dikaruniai putri yang cantik dan imut. Saya harap, kelak, dia jadi mujahidah shalihah dan pinter seperti Aisyah, putri Nabi.

Tak hanya itu, kuliah S2-ku tinggal menyelesaikan tesis. Jika tidak ada aral melintang, insya Allah, tahun depan sudah diwisuda. Dan, jika diizinkan Allah, saya akan langsung lanjutkan ke jenjang S3. Lengkap sudah nikmat dari Allah SWT yang diberikan kepadaku.

Bagiku, kemudahan dan nikmat Allah SWT tidak gratis diberikan. Setidaknya, ada sebab-musababnya. Saya jadi ingat ketika mendiang ibuku beberapa waktu hendak menghembuskan nafas terkhir berpesan kepadaku.

“Nak, jangan sedih. Jika kita tak lagi hidup bersama di dunia ini, insya Allah kita akan sama-sama di Surga. Jadilah anak yang shalih, jalin silaturahim, dan rajin belajar. Tahu Imam Nawawi? Jadilah seperti dia, ulama besar yang punya karya fenomenal.”

Petuah almarhum ibu-lah yang jadi motivasi hidupku. Petuah itu yang menyemangatiku ketika lemah. Petuah itulah yang membuka cakrawala hidupku. Dan petuah itulah yang membuatku bercita-cita untuk belajar dan kuliah hingga sekarang.

Meski saya tahu, ibu tidak meninggalkan kepingan rupiah, tapi dengan petuah itu, melebih dari rupiah.

Karena petuah itulah, saya berusaha menjadi orang baik. Rajin ibadah, jaga silaturahim, dan suka berbagi pada sesama. Dalam berbagi, misalnya, saya selalu usahakan meski dalam segala keadaan; sempit dan lapang. Termasuk ketika saya dapat beasiswa Rp 12 juta.

Tiba-tiba dua orang teman saya meminjam uang. Tak tanggung-tanggung, masing-masing Rp 3 juta. Karena butuh, tanpa merasa berat, saya pinjamkan uang tersebut.

Saya yakin, dengan itu, Allah SWT akan mengganti rezeki jauh lebih banyak dari itu. Dari apa yang telah saya lakukan, bisa jadi, pertolongan Allah SWT tak pernah terputus. Saya pun selalu beramal saleh, jika ingin pertolongan Allah terus mengucur.

[ Seperti diceritakan Imam kepada hidayatullah ]

oOo

Tidak pernah berputus asa orang yang dekat dengan ALLOH SWT . Dia-lah pemilik nasib hamba-hamba Nya. Dia mampu membalikan nasib kita dalam sekejap "... idza aroda syai-an an yaqula lahu : Kun fayakun ! "

"Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah!" Lalu jadilah ia. ( QS: Albaqoroh : 21)
"

Ayo kita :" Rajin ibadah, jaga silaturahim, dan suka berbagi pada sesama." Agar dimudahkan kehidupan kita oleh ALLOH SWT dan dikumpulkan kita di syurga - Insya Alloh - Amiin

Sumber: Group Inspiring Story III

[+/-] Selengkapnya...

Surat Seorang Gadis Kepada Ayah

Belum sempat John meletakkan tas kerjanya sepulang ke rumah, matanya tertegun melihat sebuah surat tergeletak di atas meja.
Di sebuah amplop tertulis "Untuk ayah tersayang"
Setelah belasan tahun menjadi single parent, baru kali ini ada surat untuknya dari Lucy, anak gadisnya. Ada apa?

Kalimat pertama pada surat itu sudah mengguncang hatinya;
Ayah tersayang, jika ayah membaca surat ini maka aku sudah tidak ada di rumah.
Sekalipun berat John melanjutkan bacaan kata demi kata.

Ayah, aku telah menemukan pria yang akan mendampingiku selamanya.
Memang buat orang lain dia sudah terlalu tua, tapi bagiku pria berusia 45 tahun masih tetap muda.
Dia sangat energik ayah, kalau ayah mengenal lebih dekat dengannya pasti ayah juga akan menyukainya.
Ayah jangan terkecoh dengan tato di seluruh tubuhnya atau janggut dan brewoknya yang panjang atau puluhan tindik di telinga dan hidungnya, karena jauh di dalam hatinya ia adalah orang baik.
Ia sangat sayang padaku, dan juga ayah dari anak di dalam kandunganku.
Istrinya tidak keberatan aku mendampinginya, karena istrinya sudah sibuk mengurus anaknya yang banyak.
Oh iya, ayah tidak usah khawatir tentang kehidupanku.
Ia menguasai penjualan ekstasi di kota, jadi uang sama sekali bukan masalah buat kehidupan kami.
Saya tahu ia sudah mengidap HIV sejak lama, tapi katanya dalam beberapa tahun ke depan obat penyakit AIDS akan ditemukan jadi aku tidak perlu khawatir bukan?

Ayah jangan bersedih karena aku bahagia.
Usiaku sudah 18 tahun ayah jadi aku bisa memutuskan yang terbaik untuk hidupku.

Tanpa sadar, air mata sang ayah menetes jatuh ke lembar surat itu.
Bagaimana mungkin anaknya yang lucu dan periang bisa menjadi seperti inii?
Lembar pertama surat pertama baru saja selesai dibacanya.

Tangan sang ayah bergetar, berat rasanya, tapi ia membuka lembar kedua surat itu.
Kali ini isinya jauh berbeda.

Ayah sayang,
Maaf, sebenarnya surat di halaman pertama tadi tidak benar-benar terjadi.
Saya hanya ingin menggambarkan betapa kemungkinan terburuk bisa terjadi pada anak-anak gadis, dan syukurlah aku tidak demikian.
Ayah bahagia bukan, kalau aku tetap bersama ayah?
Ayah bahagia bukan, akau tidak menghancurkan diriku seperti itu?
Tentu saja, mempunyai anak yang rapornya jelek, jauh lebih menguntungkan daripada mempunyai anak seperti itu.
Oh iya Ayah, raporku ada di dalam tas, nilainya jelek, maaf ya.
Silahkan ayah lihat, jangan lupa ditandatangani.
Besok guru ingin bicara dengan ayah tentang nilai raporku, jangan marah ya.
Kalau ayah tidak marah melihat nilai raporku, aku sedang bermain di rumah sebelah, aku tunggu yah?
Love you Daddy.

"Lucyyy..........!" John berteriak dan lari ke rumah tetangganya, ia akan mengitik habis anaknya yang 'keterlaluan' itu.

Lega rasanya hati John. Konyol tapi melegakan.
Tidak seperti kebanyakan ayah yang sedih melihat rapor anaknya yang buruk, hati John justru berbunga-bunga karena ia tidak kehilangan anaknya.
Memang kali ini, keterlaluan sekali becanda anak gadisnya!
(Terinspirasi dari humor yang pernah saya dengar)

Humor dan Hikmah
Kali ini humor dan hikmah tulisannya tidak ditulis dijudul, biar gak bocor humornya.

Sebenarnya Lucy hanya ingin agar ayahnya tidak marah melihat rapornya yang buruk, untuk membuat masalah rapor buruk terlihat kecil ia membuat gambaran masalah besar yang mungkin terjadi sehingga masalah yang ada jadi terlihat kecil.

Ini sebenarnya adalah seni bersyukur dan seni berkomunikasi dengan diri.

Kalau Anda ingin bersyukur atas kesulitan yang kita terima maka kita sebaiknya membayangkan kesulitan lebih besar yang mungkin bisa kita alami. Dengan demikian kita bisa menghindari diri dari stres atau kegalauan yang berkepanjangan.

Masalah kekecewaan hati atau rasa tidak bersyukur biasanya tidak berhubungan dengan uang tapi lebih karena penerimaan hati.
Orang yang tidak bersyukur biasanya FOKUS PADA YANG TIDAK DIPUNYAI sedangkan ORANG BERSYUKUR FOKUS PADA YANG DIMILIKI.

Kita bisa melihat anak kampung bahagia main layang layang yang 1 set berharga tidak lebih dari Rp 5000.
Tapi anak orang kaya ngambek pada orang tuanya padahal baru dibelikan pesawat remore control seharga 5 juta. Kenapa? Karena anak kaya itu suka dengan yang model baru seharga 15 juta.

Ada anak kaya yang ngambek pada orang tuanya karena link internet putus satu hari karena lupa bayar bulanan, padahal ia sudah beruntung bisa mengakses internet selama 29 hari sebelumnya.

Memang apa yang dilakukan Lucy pada Ayahnya John agak keterlaluan, tapi itu gambaran dramatis tentang bagaimana bisa membuat diri kita bersyukur apa adanya.

Sudahkan Anda bersyukur hari ini?


Sumber: Group Inspring Story III

[+/-] Selengkapnya...

Lima Kualitas Pribadi yang Disukai

Ketulusan
Ketulusan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh semua orang. Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi. Orang yang tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak suka mengada-ada, pura-pura, mencari-cari alasan atau memutarbalikkan fakta. Prinsipnya "Ya diatas Ya dan Tidak diatas Tidak". Tentu akan lebih ideal bila ketulusan yang selembut merpati itu diimbangi dengan kecerdikan seekor ular. Dengan begitu, ketulusan tidak menjadi keluguan yang bisa merugikan diri sendiri.

Kerendahan Hati
Berbeda dari rendah diri yang merupakan kelemahan, kerendahhatian justru mengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya bisa bersikap rendah hati. Ia bagaikan padi, yang semakin berisi semakin menunduk. Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain. Ia bisa membuat orang yang di atasnya merasa oke dan membuat orang yang di bawahnya tidak merasa minder.

Kesetiaan
Kesetiaan sudah menjadi barang langka dan sangat tinggi harganya. Orang yang setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu menepati janjinya, punya komitmen yang kuat, rela berkorban dan tidak suka berkhianat.

Positive Thinking
Orang yang bersikap positif (Positif Thinking) selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasu yang buruk sekalipun. Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang lain, lebih suka bicara mengenai harapan daripada keputusasaan, lebih suka mencari solusi darida frustasi, elbih suka memuji daripada mengecam, dan sebagainya.

Keceriaan
Karena tidak semua orang dikaruniai temperamen ceria, keceriaan tidak harus diartikan sebagai ekspresi dari wajah dan tubuh tapi sikap hati. Orang yang ceria adalah orang yang menikmati hidup, tidak suka mengeluh dan selalu berusaha meraih kegembiraan. Dia bisa menertawakan situasi, orang lain, juga dirinya senidir. DIa punya potensi untuk menghibur dan mendorong semangat orang lain.

Source: Super Great Memory

[+/-] Selengkapnya...

Jadilah Seperti Kopi

Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya dan menanyakan mengapa hidup ini terasa begitu berat baginya. Ia tidak tahu bagaimana menghadapinya dan hampir menyerah. Ia sudah lelah untuk berjuang. Sepertinya setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru.

Ayahnya, seorang koki, membawanya ke dapur. Ia mengisi 3 panci dengan air dan menaruhnya di atas api. Setelah air di panci-panci tersebut mendidih. Ia menaruh wortel di dalam panci pertama, telur di panci kedua dan ia menaruh kopi bubuk di panci terakhir. Ia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata.

Si anak membungkam dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang ayah. Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api. Ia menyisihkan wortel dan menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya.

Lalu ia bertanya kepada anaknya, “Apa yang kau lihat, nak?”

“Wortel, telur, dan kopi” jawab si anak. Ayahnya mengajaknya mendekat dan memintanya merasakan wortel itu. Ia melakukannya dan merasakan bahwa wortel itu terasa lunak. Ayahnya lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapati sebuah telur rebus yang mengeras. Terakhir, ayahnya memintanya untuk mencicipi kopi. Ia tersenyum ketika mencicipi kopi dengan aromanya yang khas.

Setelah itu, si anak bertanya, “Apa arti semua ini, Ayah?” Ayahnya menerangkan bahwa ketiganya telah menghadapi kesulitan yang sama, perebusan, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda.
Wortel sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, wortel menjadi lembut dan lunak.

Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras.

Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, bubuk kopi merubah air tersebut.Semakin lama semakin harum tercium.

“Kamu termasuk yang mana?,” tanya ayahnya. “Ketika kesulitan mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya? Apakah kamu wortel, telur atau kopi?”

Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu adalah wortel yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi lunak dan kehilangan kekuatanmu.

Apakah kamu adalah telur, yang awalnya memiliki hati lembut? Dengan jiwa yang dinamis, namun setelah adanya kematian, patah hati, perceraian atau pemecatan menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kamu menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku?

Ataukah kamu adalah bubuk kopi? Bubuk kopi merubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100 derajat Celcius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat. Jika kamu seperti bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga membaik.

oOo

Kehidupan sebenarnya sekolah kearifan.Persis dengan sekolah yang sebenarnya, ia juga menyimpan banyak PR (pekerjaan rumah). Setiap kali sebuah PR selesai pasti disusul dengan PR yang lain.

Ketika persoalan, tantangan atau godaan itu datang, itu berarti masa ulangan umum (ujian) menjelang kenaikan kelas atau kelulusan akan datang.

Betapa seringnya kita kehilangan kesempatan untuk naik kelas dalam kehidupan, dan betapa banyaknya PR yang kita tinggalkan.Karena kita tidak suka menghadapai masalah bahkan lari darinya

Yang terpenting sebenarnya bukan berapa banyak kita jatuh. Tapi seberapa banyak kita bangun. Karena keberhasilan ditentukan oleh seberapa banyak kita bangun, bukan seberapa banyak kita jatuh!

oOo

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun.” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-Baqarah: 155-157)

[+/-] Selengkapnya...

Inspiring Story

Sebuah kapal karam diterjang badai hebat. Hanya dua lelaki yang dapat menyelamatkan diri dan berenang ke pulau kecil yang gersang. Dua orang yang selamat itu tak tahu apa yang harus dilakukan kecuali berdoa. Untuk mengetahui doa siapakah yang paling dikabulkan, mereka sepakat pergi ke daerah berasingan dan mereka tinggal berjauhan.

Doa pertama, mereka memohon diturunkan makanan. Esok harinya, lelaki pertama melihat sebuah pohon penuh buah-buahan tumbuh di sisi tempat tinggalnya. Sedangkan di daerah tempat tinggal lelaki yang lainnya tetap kosong.

Seminggu kemudian. Lelaki pertama merasa kesepian dan memutuskan berdoa agar diberikan isteri, keesokan harinya, ada kapal karam dan satu-satunya penumpang yang selamat adalah seorang wanita yang terdampar di sisi pulau tepat lelaki pertama tinggal. Sedangkan di sisi tempat tinggal lelaki ke dua tetap saja tidak ada apa-apa.

Segera saja, lelaki pertama ini berdoa memohon rumah, pakaian dan makanan. Keesokan harinya, seperti keajaiban, semua yang diminta hadir untuknya. Sedangkan lelaki yang kedua tetap saja tidak mendapatkan apa-apa.

Akhirnya, lelaki pertama ini berdoa meminta kapal agar ia dan isterinya dapat meninggalkan pulau itu.

Pagi siang hari mereka menemui kapal tertambat di sisi pantainya. Segera saja lelaki pertama dan isterinya naik ke atas kapal dan siap-siap berlayar meninggalkan pulau itu. Ia pun memutuskan meninggalkan lelaki kedua yang tinggal di sisi lain pulau. Menurutnya lelaki kedua itu tidak pantas menerima keajaiban tersebut kerana doa-doanya tak pernah terkabulkan.

Apabila kapal siap berangkat, lelaki pertama mendengar suara dari langit, “Hai. Mengapa engkau meninggalkan rakanmu yang ada di sisi lain pulau ini?”

“Berkatku hanyalah milikku sendiri, hanya kerana doakulah yang dikabulkan,” jawab lelaki pertama.

“Doa temanku itu tak satupun dikabulkan. Maka ia tak pantas mendapatkan apa-apa,”

“Kau salah!” suara itu bertempik.

“Tahukah kau bahwa rakanmu itu hanya memiliki satu doa. Dan semua doanya terkabulkan. Bila tidak, maka kau takkan mendapatkan apa-apa.”

Lelaki pertama bertanya, “Doa macam apa yang dia panjatkan sehingga aku harus berhutang atas semua ini padanya?”

“Dia berdoa agar semua doamu dikabulkan”

Kesombongan macam apakah yang membuat kita merasa lebih baik dari yang lain? Banyak orang yang telah mengorbankan segalanya demi kebahagiaan kita. Tak selayaknya kita mengabaikan peranan orang lain, dan janganlah menilai sesuatu hanya dari “yang terlihat” saja.

Semoga kita bisa mengambil pelajarannya.

Sumber: http://inspirasipagi.wordpress.com/

[+/-] Selengkapnya...

Senyum Indah Pelangi

Seukir senyum terpaut dalam sukma
Terlerap aku tak bernafas
Kutak mau semuanya berlalu
Hingga kupuitiskan kata dalam warna
tujuh romansa di pelangi indah ceria

[+/-] Selengkapnya...

 
HTML Hit Counter